Posts

Showing posts from January, 2016

Event: PLS IMPACT (Indonesia most Particularly Essay Competition)

Image
Do you like writing? We dare you ~BEM KEMA PLS UPI Proudly Present~ PLS IMPACT (Indonesia Most Particularly Essay Competition) Tema : "Peran dan Inovasi Pendidikan Non Formal dalam Meningkatkan HDI untuk Mencapai Global Goals(SDGs) di Indonesia" "Human Development Index", HDI ini adalah ukuran komparatif dari harapan hidup, kemelek hurufan, derajat pendidikan dan standar hidup bagi seluruh negara di dunia.  standar ini bermaksud mengukur kesejahteraan. Subtema :   Judul Subtema 1) Peran Pendidikan Nonformal Dlm Menanggulangi Kemiskinan di Indonesia 2) Peningkatan Kualitas  Pendidikan melalui Layanan Pendidikan yg Profesional 3) Peran Pendidikan Nonformal dlm Mendorong Kesetaraan Gender di Indonesia 4) Penyiapan Tenaga Kerja menuju Sumber Daya Manusia yg Berkualitas   5) Analisis Pemetaan Faktor Pendukung Percepatan Pertumbuhan Ekonomi 6) Inovasi Pendidikan Non Formal dalam Mewujudkan Pendidikan Indonesia yang Merata Mark your calendar...

Ketika Embun Menembus Batu

Image
Pengetahuan kita memang sedikit. Teramat sedikit. Hanya seperti setetes embun di lautan pengetahuan Allah. Itupun tidak bisa dengan sendirinya menciptakan peristiwa-peristiwa kehidupan kita. Kesalahan kita, dengan begitu, selalu ada di situ; saat di mana kita menafsirkan seluruh proses kehidupan kita dengan pengetahuan sebagai tafsir tunggal. Tapi setetes embun itu yang sebenarnya memberikan sedikit kuasa bagi manusia atas peserta alam raya lainnya, dan karenanya membedakan dari mereka. Walaupun bukan dalam kerangka hubungan kausalitas mutlak, Allah tetap saja menyebutnya sultan; kekuasaan, kekuatan. Pengetahuan menjadi kekuasaan dan kekuatan karena Allah dengan kehendak-Nya meniupkan kuasa dan kekuatan itu ke dalamnya kapan saja Ia menghendakinya. Dan karena pengetahuan itu adalah input Allah yang diberikannya kepada akal sebagai infrastruktur komunikasi manusia dengan-Nya, maka ia menjadi penting sebagai penuntun bagi kehidupan manusia. Dalam kerangka itulah Allah mengulangi...

Antara Embun dan Laut

Image
Cerita Musa dan Khidir adalah cara Allah mendidik Nabi-Nya, Musa a.s., untuk tidak merasa terlalu tahu, untuk tidak merasa hebat. Dengan cara itu Allah hendak memangkas keangkuhannya, sekaligus menanamkan kepadanya sebuah kesadaran baru bahwa apa yang tidak kita ketahui jauh lebih banyak daripada apa yang kita ketahui. Semua yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui terangkum lengkap dalam ilmu Allah. Yang kita ketahui itu terbatas. Sementara yang tidak kita ketahui itu tidak terbatas. Pengetahuan kita adalah gambaran keterbatasan kita sebagai manusia. Sementara ketidaktahuan kita adalah gambaran ketidakterbatasan Allah, sekaligus ketergantungan kita kepada-Nya. Bisakah embun mengalahkan laut? Tidak! Tapi itu juga bukan perbandingan yang setara. Ilmu kita memang hanya ibarat setetes embun di tengah lautan. Tapi lautan sendiri takkan pernah cukup untuk menulis ilmu Allah itu. Itu sebabnya di penghujung surat Al-Kahfi di mana Allah mengisahkan cerita Musa dan Khidir, Allah menga...

Kisah Rumi dan Botol Minumannya

Image
Gambar hanya ilustrasi. Suatu malam, Maulana Jalaluddin Rumi mengundang Syams Tabrizi ke rumahnya. Sang Mursyid Syamsuddin pun menerima undangan itu dan datang ke kediaman Maulana. Setelah semua hidangan makan malam siap, Syams berkata pada Rumi; “Apakah kau bisa menyediakan minuman untukku?”. (yang dimaksud : arak / khamr) Maulana kaget mendengarnya, “memangnya anda juga minum?’.  “Iya”, jawab Syams.  Maulana masih terkejut,”maaf, saya tidak mengetahui hal ini”. “Sekarang kau sudah tahu. Maka sediakanlah”. “Di waktu malam seperti ini, dari mana aku bisa mendapatkan arak?”. “Perintahkan salah satu pembantumu untuk membelinya”. “Kehormatanku di hadapan para pembantuku akan hilang”. “Kalau begitu, kau sendiri pergilah keluar untuk membeli minuman”. “Seluruh kota mengenalku. Bagaimana bisa aku keluar membeli minuman?”. “Kalau kau memang muridku, kau harus menyediakan apa yang aku inginkan. Tanpa minum, malam ini aku tidak akan makan, tidak akan b...

Keangkuhan yang Rapuh

Image
Karena dunia, dalam benak kita sebagai manusia, adalah lukisan yang tak selesai, maka selamanya cara pandang kita tentang dunia dan hidup kita akan mengandung kenaifan yang permanen. Dan itu selamanya akan menurun pada sikap-sikap kita yang juga naif. Sebab sikap-sikap kita adalah buah dari cara pandang dan pemahaman kita tentang sesuatu. Sekarang, walaupun kita hidup di tengah sebuah peradaban ilmu dan teknologi yang canggih, akses tak terbatas pada sumber informasi yang juga tak terbatas, di mana setiap hari kita dicekoki dengan doktrin bahwa pengetahuan adalah kekuasaan, di mana apa yang ada di alas bumi, di perut bumi, dan di angkasa sana semuanya masuk dalam wilayah penjelajahan ilmu pengetahuan manusia modern; semua itu tidak bisa menghapus fakta kita bahwa lukisan kita tentang dunia ini tetaplah tak pernah selesai, dan karenanya kenaifan kita sebagai manusia tetap permanen. Begitulah Allah menitahkan: “Dan tiadalah kamu diberi ilmu kecuali hanya sedikit.” Tapi doktrin b...

Awalnya Pembelajaran Ujungnya Kesempurnaan

Image
Lelaki buta huruf itu tiba-tiba disuruh membaca. Bukan. Bukan disuruh. Tepatnya dipaksa. Sampai tiga kali. Dan pecahlah peristiwa itu dalam sejarah manusia; lelaki buta huruf itu lantas diangkat menjadi nabi, bahkan penutup mata rantai kenabian hingga akhir zaman. Begitulah perintah membaca mengawali pengangkatan Muhammad menjadi Nabi. Kelak, setelah menunaikan tugas kenabian itu selama 23 tahun, atau tepatnya 22 tahun 2 bulan 22 hari, Allah SWT menutup perjuangan beliau dengan satu ayat tentang kesempurnaan: ” Hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu, dan Ku-sempurnakan pula nikmat-Ku untukmu dan Aku ridho Islam sebagai agamamu .” Risalah kenabian itu dibuka dengan perintah membaca, dan kelak ditutup dengan pernyataan penyempurnaan dan keridhoan. Awalnya adalah pembacaan. Ujungnya adalah penyempurnaan. Maka berkembanglah agama terakhir ini dari seorang Nabi menjadi seratusan ribu manusia Muslim, dari komunitas kecil para penggembala kambing jazirah Arab yang tandus menjadi...

Filosofi Shalat Berjama'ah

Image
Oleh Hadil Umam Shalat sering diartikan sebagai proses pertemuan antara Sang Khalik dengan hambanya. Shalat juga dipahami oleh banyak orang sebagai sarana diskusi dengan Tuhan, di mana mereka mencurahkan segala keluh kesahnya dengan harapan Tuhan akan memberikan jalan keluar baginya. Bentuk ritualnya pun bermacam-macam, ada shalat yang hanya dikerjakan sendiri dan ada shalat yang dilaksanakan secara bersama-sama. Kita memahami pula bahwa shalat merupakan tiang agama, dan tanpa shalat, ibadah lainnya bernilai “NOL”. Siapa yang shalat, maka ia akan mendapatkan ganjaran, dan siapa yang melewatkan shalat, dengan alasan apapun, ia akan mendapatkan balasannya, meskipun tetap Allah lah yang memegang hak dari semua keputusan. Namun, apakah pernah terpikir dalam benak kita bahwa shalat yang kita lakukan hanya sebatas jual beli ibadah ( shalat karena cuman pengen sorga ) atau betul-betul mengharap Ridha Allah. Sedang realiatas yang ada, yang sering kali menjebak kita, dan membuat po...

Lukisan yang tak Selesai

Image
Setiap saat, dalam perjalanan hidup yang panjang, kita selalu menemukan satu per satu rahasia kehidupan. Setiap satu rahasia yang kita temukan, menambah pengetahuan kita tentang hidup. Setiap kali pengetahuan kita bertambah, kita menjadi lebih arif dan bijaksana. Situasi itulah yang terekam dalam salah satu warisan hikmah orang Arab. Mereka mengatakan, sebodoh-bodohnya manusia, umur akan tetap membuatnya lebih bijaksana. Kebijaksanaan terbentuk dari akumulasi atau himpunan informasi yang membentuk pengetahuan kita tentang hidup. Karena sifatnya yang akumulatif, maka kesadaran hidup kita tidak akan pernah bisa terbentuk seketika. Karena tidak terbentuk seketika, maka sikap hidup kita juga berubah dari waktu ke waktu. Tapi kapankah pengetahuan kita tentang hidup menjadi sempurna dan lengkap? Atau, jika pertanyaannya lebih mendasar lagi, bisakah pengetahuan kita tentang hidup menjadi sempurna dan lengkap? Jawabannya pasti. Tidak. Tidak akan pernah bisa pengetahuan kita tentang hi...

Dunia Kita, Hidup Kita

Image
Bisakah kita membayangkan bagaimana dulu, Adam dan Hawa, menjalani hidup ketika hanya mereka berdua yang menghuni bumi ini? Mungkin mudah membayangkan bagaimana mereka mencari makan untuk menyambung hidup, atau membuat rumah tempat mereka berteduh, atau membuat pakaian untuk menutup aurat mereka. Tapi coba bayangkan bagaimana pada mulanya mereka menemukan bahasa sebagai alat komunikasi mereka? Atau bagaimana pada mulanya mereka mengenal satu per satu dari jengkal tanah bumi ini? Bagaimana mereka mengetahui atau menyepakati bahwa tempat mereka berjalan itu bernama tanah, bahwa benda yang tampak jauh di ketinggian sana, yang berwarna biru adalah langit, bahwa ada makhluk lain di dunia selain mereka yang bernama binatang dan tumbuhan, bahwa ada lampu besar yang membuat hari-hari mereka terbelah dalam terang dan gelap, dan bahwa ketika hari siang itu namanya siang dan ketika hari gelap itu namanya malam? Tapi kenapa kemudian kita, anak cucu Adam dan Hawa, bisa punya ribuan kata yang...

Nilai Kehidupan

Image
Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik. Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti. "Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon. Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada...

Kunci Berharga 2 Miliar

Image
Satu hal kecil, ternyata jika ditelusuri bisa membawa dampak yang sangat besar. Bahkan, bisa menyelamatkan ribuan nyawa. Hal itulah yang terungkap dari kisah tenggelamnya kapal Titanic, kapal legendaris yang tenggelam karena menabrak gunung es pada tahun 1912 dan menewaskan 1522 jiwa. Dari fakta sejarah, Titanic menabrak gunung es salah satu kemungkinannya dikarenakan kunci untuk membuka lemari penyimpan teropong untuk melihat keadaan sekeliling laut tertinggal. Andai saja kunci itu tidak tertinggal, mungkin nahkoda bisa melihat lautan luas dengan lebih leluasa. Namun, karena tanpa teropong, pandangan nahkoda yang terbatas membuat mereka tidak sadar ada gunung es sangat besar yang akhirnya mengaramkan Titanic. Fakta yang serbamungkin itu terungkap dalam lelang kunci yang dianggap mungkin bisa merubah sejarah tersebut. Dikisahkan, bahwa kunci dengan gantungan bertuliskan Crows Nest Telephone Titanic itu tertinggal di kantung seorang petugas yang menyerahkan kapal sehari s...