Move 2: Sepanjang Jalan Kenangan
Kuping panas. Muka memerah. Hati bergejolak. Kami, dua bujang yang tersisa dari angkatan di SMP dulu, habis dicecar dengan berbagai pertanyaan yang menyengat hati. "Kapan nyusul?" "Ga inget umur!" "Berdua aja, jangan-jangan..." Menyebalkan. Kenapa semua orang tiba-tiba jadi seperti reporter dan host infotainment? Oh, kapankah penderitaan ini akan berakhir? Setelah makan, kami memutuskan segera pamitan. Jabat tangan dan berdoa untuk mempelai. ' Nyecep '. Sesi poto. Dua tahun belakangan, rasanya semakin sulit untuk bisa menikmati menu-menu yang tersaji di hajatan. Padahal tadi ada stand ice cream, mie kocok, siomay, zupa-zupa. Mubadzirkan kalau tersisa? Selama perjalanan pulang Trisna nyetir sambil tak henti bersungut-sungut. "Teman macam apa mereka? Seneng banget ngerusuhin hidup orang. Harusnya kan doakan aja biar bisa cepat nikah! Ga perlu tanya macem-macemlah, sampai bilang jangan-jangan kita ini homo!" Ah, daripada hat...