Makna Bacaan Shalat (Al-Fatihah)
Al-Fatihah memiliki peranan penting untuk
pencapaian khusyuk dalam shalat karena dua hal: pertama karena Al-Fatihah
adalah bacaan yang hukumnya wajib atau termasuk rukun shalat yang bila tidak
dibaca atau salah membacanya berakibat pada tidak sahnya shalat.
Kedua, karena dalam Al-Fatihah terdapat
dialog yang sangat indah dengan Allah swt. Perhatikan kalimat dalam kurung pada
setiap makna bacaan Al-Fatihah di bawah yang merupakan terjemah dari hadits
sahih tentang jawaban Allah untuk setiap ayat. Bacaan kita dijawab Allah.
Shalat kita direspon Allah.
Maka seperti dianjurkan para ulama,
bacalah Al-Fatihah secara perlahan, ayat per ayat. Berhenti sejenak di setiap
akhir ayat untuk “menikmati” dialog dengan Allah. Demikian misalnya dianjurkan
oleh Ibn Al-Qoyim dan Ar-Razi. Selamat menikmati dialog teragung ini!
“Bismillahi”
Dengan menyebut nama Allah
“Arrahmaani”
Yang maha luas kasih sayang-Nya
“Arrahiimi”
Maha kekal kasih sayang-Nya
(jawaban Allah: Hamba-Ku menyebut
nama-Ku)
“Alhamdu”
Segala puji
“Lillahi robbil ‘aalamiin”
Milik Allah yang mencipta dan mengatur
semesta alam
(jawaban Allah: hamba-Ku memuji-Ku)
“Arrahmaani”
Yang maha besar kasih sayangnya
“Arrahiimi”
Maha kekal kasih sayang-Nya
(jawaban Allah: hamba-Ku menyanjung-Ku)
“Maaliki yaumiddiin”
Pemilik hari pembalasan
(jawaban Allah: hamba-Ku mengagungkan-Ku)
“Iyyaka na’budu”
Hanya kepada-Mu kami mengabdikan diri
“Wa iyyaaka nasta’iin”
Dan hanya kepada-Mu pula kami meminta
tolong
(jawaban Allah: Ini adalah bagian antara
aku dan hamba-Ku. Hamba-Ku berhak mendapat apa saja yang dia pinta)
“Ihdina”
Tunjukan dan bimbinglah kami
“(as)shirootolmustaqiim”
Ke jalan yang lurus
“Shirootolladziina An’amta ‘alaihim”
Jalan orang-orang yang Kau berikan nikmat
kepada mereka
“Ghairil maghdhuubi ‘alaihim”
Bukan jalan mereka yang dibenci
“Waladhdhoolliin”
Dan bukan juga jalan mereka yang sesat
(jawaban Allah untuk ayat 6-7: Ini adalah
khusus untuk hamba-Ku. Hamba-Ku berhak mendapat apa saja yang dia pinta.)
*Aamiin..
Kabulkanlah permohonan kami.
Sumber: Muhidin Ilyas, Marfu, 2012, Menikmati Dzikir, Purwakarta: Taqoddum.

Comments
Post a Comment