Harmoni
Keharmonisan adalah adanya hubungan yang terarah, teratur, dan berlangsung begitu indah antara diri kita dengan diri sendiri, antara diri dengan Tuhan, diri dengan orang lain, lingkungan sekitar, dan alam dimana kita berada.
Inilah unsur
kebahagiaan sejati setelah kita mengetahui tujuan hidup.
Seluruh
aturan Islam yang diturunkan oleh Allah Swt ke dunia, semata-mata memberi
manusia petunjuk tentang bagaimana mengatur hubungan dengan seluruh sisi hidup
kita.
Mengapa Islam
menyuruh kita jika bertemu dengan orang lain memberi salam? Rasul Saw
mengatakan, “Tebarkan salam, berikan makan, sambunglah tali silaturrahim, dan
bangunlah untuk shalat ketika orang lain tertidur. Niscaya engkau akan masuk
surga dengan aman sentosa.”
Memberi salam
berarti saat kita memasuki dunia orang lain, dimulai dengan doa. Doa itu adalah
doa kebahagiaan yang sekaligus menunjukkan niat baik kita kepada orang itu.
Ketika kita memberi makan, kita memenuhi kebutuhan biologis atau kebutuhan
pokok seseorang. Hal ini akan membuat orang gembira. Ketika menyambung
silturrahim, kita tidak hanya membatasi hubungan secara fisik atau materi
semata, tetapi juga hubungan kejiwaan antara kita dengan orang lain. Bangun
tengah malam, kita menghimpun hubungan-hubungan tadi dengan arah dan misi yang
jelas. Semuanya menuju Allah Swt.
Kita
perhatikan, kenapa Islam menyuruh kita bersedekah? Mengapa Islam menyuruh
tersenyum setiap kali bertemu dengan orang lain? Karena kita bisa bersedekah
dengan apa saja.
Mengapa Islam
melarang kita menggunjing? Mengapa Islam melarang kita memanggil dengan gelar
yang buruk atau buruk sangka pada orang lain? Mengapa Islam melarang memukul,
merusak kehormatan orang lain? Mengapa Islam melarang berzina dan membunuh? Itu
disebabkan karena semua perilaku tadi merusak pola hubungan dan keharmonisan
kita dengan orang lain.
Tidak ada di
dunia ini orang yang bisa bahagia seorang diri. Orang yang bisa mengaku bahagia
seorang diri, kebahagiaannya dibangun di atas penderitaan orang lain. Ia tidak
akan pernah benar-benar bahagia selamanya dalam hidup.
Mungkin kita
bisa bahagia karena bisa mengembangkan potensi dalam diri kita. Kita bisa
sukses di sekolah, di perkuliahan, bisnis atau pekerjaan. Tetapi jika untuk
kesuksesan itu kita terpaksa tidak mengunjungi orang tua, terpaksa meninggalkan
saudara dan sahabat, terpaksa mengorbankan hubungan dengan keluarga; berarti
kita membayar satu kesuksesan itu dengan penderitaan orang lain.
Kelak
penderitaan itu akan menjadi balasan yang merampas semua kebahagiaan yang kita
rasakan, entah di dunia dan atau di akhirat...
(Disadur dari
buku “Sebelum Mengambil Keputusan Besar Itu...”, Mata)

Comments
Post a Comment